Walau tak Sempurna namun Seutuhnya
Lelap mata kalian terpejam, naik turun hembusan nafas menyapu setiap sudut hatiku. Ku genggam erat tangan mungil kalian. Betapa kalian adalah guru terbaik dalam hidupku. Sungguh kalian adalah penguat hari-hari ku. Kakak, Maafkan lah uma mu ini. Kutahu tangisan mu membawa luka. Pengendalian emosi & ego ini membuat sering kali engkau menjadi tempat pelampiasan ku. Nak, Ku tahu engkau sangat menyayangi ku. Begitu pun aku. Tingkah mu yang lucu sering ku abaikan begitu saja. Demi sebuah rasa yang sebenarnya tak jauh lebih indah dari senyuman mu. Sayang, terima kasih untuk lincah mu, walau sering kali uma mu ini melukai fitrah mu. Kini dalam lelap mu hanya maaf yang uma bisikan. Engkau dan aku yang pernah dalam satu detak jantung membuat mu selalu ikut merasakan apa yang uma rasakan. Hingga saat ini. Maka, ketika harusnya engkau tak perlu rasakan kegelisahan ini engkau pun turut ambil bagian. Cinta, Semoga engkau memaafkan setiap laku uma mu yang telah melukai. Adik, Mende...